Sejak penjajahan Belanda, Desa Tapus ini belum terwujud
sebagai sebuah desa. Salah satu penyebabnya adalah karena jumlah penduduk yang
sedikit. Karena pada jaman dahulu, orang-orang yang bermukim di desa ini hanya
beberapa orang.
Desa ini mempunyai dua buah sungai yang membentang dan membujur desa ,yaitu Sungai Kiai yang terletak melintasi desa Tapus
dan Desa Banyu Tajun Hulu. Sungai ini mengalir sampai ke Desa Tapus Dalam hingga menuju Sungai Awang Landas
dan berakhir di Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Sungai yang kedua adalah sungai Amar yang
mengalir membujur Desa hingga batas Desa Pinang Habang. Sungai ini
disebut Sungai Amar karena orang yang
pertama menggali Sungai tersebut bernama Amar sehingga sungai tersebut masih
dikuasai oleh anak cucu beliau sampai sekarang .Oleh masyarakat sekarang sungai
ini setiap tahun dilakukan pencarian ikan secara massal pada musim kemarau dengan
hasil tangkapan yang cukup memuaskan.
Pada waktu dulu
desa Tapus sangat sunyi hanya hutan belantara yang ditumbuhi oleh kayu bangkal
,kayu berduri ,Galam dan tumbuhan liar lainnya.Kemudian beberapa kepala keluarga yang datang dari
desa Panyiuran dan Alabio yang mencoba
membuka lahan pertanian baru untuk melakukan bercocok tanam padi .
Pada mulanya pada waktu siang saja mereka bertani tapi
karena hasil tanaman seperti ubi,
labu,jagung dan padi hampir di panen dan
mereka takut kalau dimakan binatang seperti babi yang memakan tanaman pada
malam hari lalu mereka mendirikan pondok
di setiap lahan.
Oleh karena
terbiasa dengan tidur seadanya diatas pondok yang kecil lama kelamaan mereka
mulai betah menetapi pondok tersebut hingga menjadi tempat tinggal walaupun
pada siang hari pun nyamuk banyak berkeliaran.
Orang –orang yang menetap di
Pondok menjadi cemoohan oleh warga desa asal mereka dengan mengeluarkan
kata-kata “Apus tu “ banyamuk.Dengan kata “Apus tu” lah timbul pemikiran warga
yang tinggal memberi nama lingkungan mereka dengan nama “Tapus”

Mantap kisahnya nah
BalasHapus